Entri Populer

Aksiologi Ilmu Pengetahuan

Jumat, 11 Juni 2010

Aksiologi Ilmu Pengetahuan


A.Dasar-Dasar Aksiologi
Pengertian Aksiologi menurut bahasa Yunani, aksiologi berasal dari perkataan axios yang berarti nilai dan logos berarti teori. Jadi aksiologi adalah teori tentang nilai. Menurut Suriasumantri (1987 : 234) aksiologi adalah teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh. Menurut kamus Bahasa Indonesia (1995 : 19) aksiologi adalah kegunaan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia, kajian tentang nilai-nilai khususnya etika.
Dihadapkan dengan masalah moral dan ekses ilmu dan teknologi yang bersifat merusak, para ilmuwan terbagi kedalam dua golongan pendapat, yaitu :
1.Golongan yang berpendapat bahwa ilmu harus bersifat netral terhadap nilai-nilai baik itu secara ontologism maupun aksiologi. Dalam hal ini ilmuwan hanyalah menemukan pengetahuan dan terserah kepada orang lain untuk mempergunakannya, apakah akan digunakan untuk tujuan yang baik ataukah untuk tujuan yang buruk. Golongan ini ingin melanjutkan tradisi kenetralan ilmu secara total, seperti pada waktu era Galileo.
2.Golongan yang berpendapat bahwa netralisasi ilmu hanyalah terbatas pada metafisika keilmuwan, sedangkan dalam penggunaannya haruslah berlandaskan nilai-nilai moral.

B.Ilmu Sebagai Asas Berfikir
Sebagian besar orang-orang sering menuangkan pikiran nya kedalam bentuk tulisan, perkataan, obrolan, isyarat dan lain sebagainya. Pikiran yang disampaikan itu tentu beraneka ragam adanya, ada yang kelihatannya bagus dan masuk akal, Ada juga yang kelihatan bagus tapi tidak masuk akal, ada juga yang kelihatannya tidak bagus tapi masuk akal dan ada juga yang tidak bagus dan tidak masuk akal pula Sekarang bagaimana cara kita untuk membedakan manakah buah pikiran yang bagus dan manakah buah pikiran yang ngaco? Untuk membedakannya kita bisa menggunakan atau menerapkan  patokan-patokan dan hukum-hukum logika yang sudah ada. Hukum, patokan dan rumus logika sering juga disebut dengan Asas Berpikir. Asas sebagaimana kita ketahui adalah pangkal atau asal dari mana sesuatu itu muncul dan dimengerti, atau bisa juga disebut sebagai pondasinya sesuatu dimana sesuatu itu bermula. Dalam hal “asas pemikiran” , maka yang disebut dengan asas pemikiran adalah pengetahuan dimana pengetahuan lain muncul dan dimengerti. Kapasitas asas ini bagi kelurusan berpikir adalah mutlak, dan salah benar nya suatu pemikiran tergantung kepada salah benarnya asas-asas ini. Ia adalah dasar daripada pengetahuan dan ilmu.

C. Ilmu Sebagai Asas Moral
Untuk melakukan kegiatan ilmiah secara baik diperlukan sarana berpikir. Tersedianya sarana tersebut memungkinkan dilakukannya penelaahan ilmiah secara teratur dan cermat. Penguasaan sarana berpikir ilmiah ini merupakan suatu hal yang bersifat imperatif bagi seorang ilmuwan. Tanpa menguasai hal ini maka kegiatan ilmiah yang baik tak dapat dilakukan.
Dalam proses pendidikan, sarana berpikir ilmiah ini merupakan bidang studi tersendiri. Dalam hal ini kita harus memperhatikan 2 hal, yaitu :

a. Sarana ilmiah bukan merupakan kumpulan ilmu, dalam pengertian bahwa sarana ilmiah itu merupakan kumpulan pengetahuan yang didapatkan berdasarkan metode ilmiah.

b. Tujuan mempelajari sarana berpikir ilmiah adalah untuk memungkinkan kita untuk menelaah ilmu secara baik.

D. Tanggung Jawab Ilmuan Muslim Modern
Dialah Ibnu Ismail Al Jazari (1136-1206), penemu konsep robotika modern. Al Jazari mengembangkan prinsip hidrolik untuk menggerakkan mesin yang kemudian hari dikenal sebagai mesin robot.

”Tak mungkin mengabaikan hasil karya Al-Jazari yang begitu penting. Dalam bukunya, ia begitu detail memaparkan instruksi untuk mendesain, merakit, dan membuat sebuah mesin” (Donald Hill).

Kalimat di atas merupakan komentar Donald Hill, seorang ahli teknik asal Inggris yang tertarik dengan sejarah teknologi, atas buku karya ahli teknik Muslim yang ternama, Al-Jazari. Al Jazari merupakan seorang tokoh besar di bidang mekani dan industri. Lahir dai Al Jazira, yang terletak diantara sisi utara Irak dan timur laut Syiria, tepatnya antara Sungai tigris dan Efrat.Al-Jazari merupakan ahli teknik yang luar biasa pada masanya. Nama lengkapnya adalah Badi Al-Zaman Abullezz Ibn Alrazz Al-Jazari. Dia tinggal di Diyar Bakir, Turki, selama abad kedua belas. Ibnu Ismail Ibnu Al-Razzaz al-Jazari mendapat julukan sebagai Bapak Modern Engineering berkat temuan-temuannya yang banyak mempengaruhi rancangan mesin-mesin modern saat ini, diantaranya combustion engine, crankshaft, suction pump, programmable automation, dan banyak lagi.

Wacana Filsafat Ilmu I

Wacana Filsafat Ilmu


A. Islamisasi Sain
Rekonstruksi Sains. Metodologi sains baru yang akan digunakan dalam rekonstruksi sains baru akan dicoba dirumuskan dengan meninjau beberapa komponen-komponen penyusun “sistem sains”. Sistem sains ini dapat dikatakan dikembangkan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tertentu. Pertanyaan nalar pertama adalah tentang pengalaman manusia bersentuhan, melihat, dan mendengar benda-benda dan gejala-gejala tangible tercandra di luar dirinya.
 Apa nama benda-benda dan gejala-gejala tangible yang tercandra yang ada di sekitar saya ? (definition problem)
 Bagaimanakah hubungan-hubungan yang paling mungkin (most probable relationship) antara benda-benda atau gejala-gejala tercandra ini ? (scientific problem)
 Bagaimanakah saya bisa memanfaatkan hubungan-hubungan ini untuk kepentingan saya ? (technological problem)
Hubungan antara pengamat dan amatan cukup jelas. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan pertama ini menghasilkan pengetahuan, ilmu, dan teknologi. Namun penting untuk segera dicatat, bahwa pertanyaan-pertanyaan tentang nama-nama benda, dan apalagi tentang dirinya sendiri sebagai manusia (pertanyaan eksistensial) tidak sepenuhnya bisa dijawab oleh diri manusia sendiri, semata-mata karena bahasa bukanlah gejala kesepakatan antar manusia, serta eksistensi manusia bukan hasil rekayasa dan keputusannya sendiri.
Komponen sains kedua menyangkut manusia –tentu pertama tentang dirinya sendiri-, yaitu tentang perasaan (emosi) (intangible, tapi tercandra), sebuah refleksi seseorang atas pengalaman emosionalnya. Domain sains ini memiliki hirarki yang lebih tinggi daripada domain sains sebelumnya.

Berbeda dengan pengetahuan, perasaan menimbulkan kehendak (karsa, kemauan) yang menggerakkan manusia, sedangkan pengetahuan tidak. Jawaban atas pertanyaan nalar kedua ini menghasilkan, mungkin salah satu yang terpenting, ilmu manajemen –disamping psikologi-, yaitu sebuah cara menggerakkan sekelompok manusia untuk melakukan aktifitas-aktiftas terencana demi mencapai tujuan-tujuan tertentu.
Berbeda dengan pertanyaan nalar pertama, pertanyaan nalar kedua ini sudah memasuki persoalan “choice” atau “decision”. Inilah yang menyebabkan realitas manusia itu tidak tunggal, melainkan buah pilihan emosionalnya. Subyektifitas atau kesadaran manusia dimulai di tahap pilihan-pilihan emosional ini. Manusia dengan kecerdasan emosional yang tinggi akan memilih emosi-emosi positif yang menguntungkan dirinya.

Spiritualitas dan Bahasa
Pertanyaan nalar keempat adalah tentang spiritualitas, yaitu siapakah manusia (dirinya sendiri) ini ? Jawaban atas pertanyaan ini memberi pijakan bagi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan moral. Nalar tidak mampu menjawab pertanyaan ini. Manusia tidak memiliki kapasitas untuk menjawab persoalan definisi diri (self-definition atau identity problem) ini. Pencarian tentang siapa dirinya ini telah dicoba dilakukan melalui eksperimentasi sejarah (manusia) yang panjang dengan bahan baku eksperimennya adalah manusia beberapa generasi.

Pertanyaan spiritualitas ini mengantar kita pada pertanyaan di sekitar rumusan pertanyaan itu sendiri. Kata-kata dan susunannya dalam sebuah kalimat itu pertama-pertama harus dianggap sebagai sebuah sistem aksiomatika (kerangka asumsi) dasar yang diyakini kebenarannya oleh penanya, namun biasanya tidak disebutkan secara eksplisit. Bahasa dengan demikian memberi jawaban bagi boundary value problem ini. Jika pertanyaan-pertanyaan nalar ini tersusun oleh kata dan kalimat, apakah manusia memiliki otoritas atas bahasa yang dipakainya untuk mengajukan pertanyaan atau melakukan proses penalaran ? apakah bahasa merupakan gejala kesepakatan manusia ? apakah bahasa merupakan gejala penaklukan ?

Sejarah manusia menunjukkan bahwa bahasa merupakan gejala penaklukan. Bangsa yang lebih unggul akan memaksakan (secara kekerasan atau tidak) bahasa mereka pada bangsa yang ditaklukkan. Adaptasi atau penyerapan bahasa asing ke dalam sebuah bahasa lainnya menunjukkan bahwa bangsa kedua ditaklukkan oleh bangsa pertama. Proses pembelajaran bahasa dalam interaksi ibu-anak jelas-jelas menunjukkan bahwa bahasa merupakan gejala penaklukkan, penaklukan oleh sebuah eksistensi yang lebih tinggi kepada eksistensi yang lebih rendah.
Jika bahasa merupakan alat berpikir manusia, maka bahasa akan menunjukkan tingkat kemajuan pemikiran bangsa pemakai bahasa tersebut. Di samping ada gejala rumpun bahasa (misalnya saja antara alif dan alfa, manakah yang lebih dulu diciptakan ? bangsa arab mengadopsi bangsa Yunani, atau sebaliknya ?), bahasa jelas bukan merupakan gejala kesepakatan.

Paradigma Sains Alternatif
Dalam tulisan ini diajukan sebuah paradigma sains alternatif. Untuk tujuan ini harus dikatakan, bahwa kata “iman” dan beragam bentuk turunannya amat banyak dibicarakan dalam al Qur’an, sehingga sesungguhnya lebih layak dipakai sebagai basis sains daripada kata “tauhid” yang sama sekali tidak dipakai dalam Al Qur’an. Bahkan jibril seolah membagi Al Qur’an ke dalam sebuah sistematika tertentu, yaitu iman, islam, ihsan, dan sa-ah.

Al Qur’an harus dipandang sebagai kerangka sistem aksiomatika ilmu -terutama ilmu sosial- karena tidak ada keraguan di dalamnya (la rayba fii hi), bahkan memberi penjelasan atas segala sesuatu (tibyaanan li kulli syai’in). Al Quran tersusun oleh kerangka teoretik ilmu-ilmu sosial (ayat-ayat muhkamaat), sedangkan lainnya merupakan penjelasan kerangka teori ilmu-ilmu sosial tersebut yang disajikan melalui perumpamaan-perumpamaan astronomi, biologi, fisika, dsb. (ayat-ayat mutasyaabihaat). Jadi, perbedaan antara muhkamat dan mutasyabihat adalah perbedaan antara isi/kandungan dengan bungkus/kandang, bukan anatara ayat yang jelas dan yang tidak jelas. Sebab jika hal ini menyangkut ayat-ayat yang jelas dan tidak jelas, kedudukan Al Quran sebagai petunjuk dan pedoman hidup tidak bisa lagi dipertahankan.
Al Qur’an sendiri mengajukan definisi sains, sebagaimana dinyatakan dalam Surat Ar Rachman. Lima ayat pertama surat Ar Rachman memberi definisi sains alternatif, yaitu saat mendefinisikan al bayyan sebagai rangkaian informasi dari Allah swt. tentang astronomi, biologi, dan kehidupan sosial.

Model kognitif atau metodologi sains alternatif bisa dirumuskan dengan memperhatikan surat Yunus : 5 yang menggambarkan metodologi sains ini melalui perumpaman astronomi. Jika realisme dan naturalisme dapat diibaratkan sebagai sebuah metode gerhana bulan (moon eclipse) , dan idealisme sebagai gerhana matahari (sun eclipse), maka metodologi alternatif ini adalah metode non-gerhana. Jika bulan melambangkan manusia, bumi melambangkan alam, dan matahari melambangkan Sang Pencipta, maka gerhana bulan menggambarkan penyembahan manusia atas alam semesta, sedangkan gerhana matahari menggambarkan penuhanan manusia atas dirinya sendiri.

Penuhanan diri sendiri yang sering dilakukan oleh para pemimpin agama gadungan digambarkan Qur’an melalui upaya-upaya kadzdzaba, yaitu “yaktubuuna al kitaaba bi aydii-him, tsumma yaquluuna haadza min ‘indillah, liyastaruu bihi tsmanan qaliilan”. Sementara penuhanan pada alam dilakukan oleh para saintis melalui proses-proses “pencurian” ilmu (tawallay), dengan mengatakan “penemuanku” daripada mengatakan “sunnatullah”.

Kesimpulan
Dalam rangka keluar dari krisis manusia modern sebagai krisis ilmu ini, ummat Islam perlu bekerja keras untuk membangun kerangka paradigmatik sains alternatif, dengan ciri pokok sebagai berikut :

1.Menjadikan Al Qur’an sebagai sebuah sistem aksiomatika sains sosial (sunnaturasul).

2.Sains alam (ayat-ayat mutasyabihaat) menyediakan data-data penjelasan bagi sains sosial (ayat-ayat muhkamaat) –sosiologi, ekonomi, politik, sejarah. Sains sosial berada dalam hirarki ilmu yang lebih tinggi daripada sains alam.
3.Ilmu dikembangkan dengan model kognitif atau metodologi non-gerhana, sebut saja metode “ibda’ bismillah wa akhir ha bil hamdulillah) di mana Allah swt sebagai wakil, manusia sebagai mutawakkil, dan alam sebagai ladang pengabdian manusia pada Allah swt yang senantiasa dilakukan “dengan asma Allah (bi-ismi-Allah), dan diakhiri dengan “sikap menyanjung kehidupan menurut ilmu Allah (al-hamdu lillah)”.

Wacana Filsafat Ilmu II

Wacana Filsafat Ilmu
Sub BAB II

A.Refleksi Teknologi Informasi Dulu
Medan (ANTARA News) - Menteri Agama menyatakan bahwa perkembangan teknologi
informasi yang semakin agresif dewasa ini, merupakan tantangan bagi semua elemen
baik tokoh-tokoh agama maupun orangtua dalam mendidik anak. "Kekuatan informasi melalui teknologi yang modern dan canggih, selain untuk dipergunakan bagi kepentingan yang positif, tidak sedikit juga dipergunakan untuk kepentingan yang negatif," kata Suryadharma Ali saat membuka Tabligh Akbar dan Harlah Al-Ittihadiyah di Medan, Sumatra Utara, Minggu. Ia mengatakan, informasi dari belahan dunia mana pun dengan isi segala materinya sangat mudah menyebar dan merasuk keruang-ruang kesadaran masyarakat melalui kemajuan teknologi informasi.
Nilai- nilai yang dulu dianggap sakral, kini mulai bergeser menjadi hal yang dianggap tidak memiliki makna lagi. Dengan teknologi informasi siapa pun bias menjadi berita dan siapa pun dapat menyerapnya tanpa filter dan saringan yang memadai.
Sebagai contoh nyata, perkembangan jejaring sosial di Internet seperti facebook
dan Twitter tanpa disadari telah membentuk budaya hidup baru. Tentunya fenomena
ini mengandung manfaat seperti jaringan silaturahmi dan menyebarkan nilai-nilai
positif lainnya. Namun tidak dapat dipungkiri juga bahwa hal tersebut juga membentuk sikap dan
prilaku negatif masyarakat.

B. Refleksi Teknologi Informasi Kini
Dukungan Internet
Sudah tentu, yang paling bertanggung jawab atas pesatnya dunia IT adalah perkembangan internet yang begitu cepat. Hadirnya internet membuat segalanya serba cepat. Masyarakat yang membutuhkan informasi-informasi mengenai bisnis, pendidikan, komersial hingga hiburan kini dimudahkan dengan internet.
Aktivitas-aktivitas manual yang dahulu di-cover oleh jasa telekomunikasi seperti transaksi bisnis, pembayaran uang pendidikan, pembelian jarak jauh serta pengajaran jarak jauh dan lainnya saat ini telah beralih menggunakan internet. Hal ini kemudian memunculkan berbagai istilah seperti e-commerce, tele-shopping, e-learning, e-banking, e-business, EDI, video conference, video on demand, multimedia dan e-govemment. Internet memang memberikan akselerasi yang luar biasa terhadap konvergensi antara jasa telekomunikasi dan jasa teknologi informasi atau IT services. Pada akhirnya, konvergensi antara layanan telekomunikasi dan IT telah memunculkan beragam layanan yang tentunya dibutuhkan masyarakat. Bentuk layanan dan informasi tersebut terbukti telah mendorong berkembangnya teknologi jaringan telekomunikasi berdasarkan kriteria yang beragam pula, seperti masalah keamanan, keandalan, kecepatan, cakupan, personalitas, portabilitas, dan harga. Maka muncullah teknologi-teknologi seperti IN, ISDN, frame relay, ATM, SDH, HFC, GSM, CDMA, ADSL hingga pada teknologi satelit. Kemudian, teknologi terbaru yang muncul antara lain layanan 3G, Wimax, WIFI, xDSL dan lain-lain.

C. Refleksi Teknologi Informasi Esok
      Kemajuan pendidikan menentukan maju tidaknya sebuah bangsa. Itulah konsep yang dipahami hampir seluruh bangsa  di berbagai belahan dunia. Sehingga banyak negara yang telah berhasil ‘melompat' melewati berbagai hadangan krisis dan ketertinggalan menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama dalam membangun kembali bangsanya. Singapura, Jepang, Thailand, Vietnam, China, Korea Selatan, dan Malaysia adalah beberapa contoh nyata Negara yang memberikan perhatian sangat tinggi terhadap sektor pendidikan. Badai krisis global yang menghantam di tahun 1997 tidak membuat mereka berlama-lama dalam keterpurukan. Dan pendidikan adalah satu kunci utamanya.

            Pendidikan -sebagai sebuah proses dalam sebuah bangsa- mengalami perkembangan di berbagai sisi. Sebagai bagian dari budaya -demikian saya menyimpulkan- ia tak lepas dari faktor-faktor yang melingkupinya. Jelas, sistem pendidikan di era tahun 1900-an sangat berbeda dengan sistem pendidikan di era 2000-an seperti sekarang ini. Sebagaimana Tofler menyatakan, telah terjadi pergeseran "Traditional Age" - ditandai dengan tatanan masyarakat agraris-  ke "Industrial Age" -antara tahun 1600-an hingga pertengahan 1900-an dan dipicu oleh ditemukannya mesin uap- dan akhirnya " Information Age"-ketika teknologi tinggi mampu memenuhi berbagai kebutuhan manusia-, maka sistem pendidikan mutakhir pada akhirnya bergeser dari paradigma konvensional -dimana man, material, machine, dan money sebagai modal utama- menuju paradigma modern dengan informasi sebagai modal utamanya. Dengan istilah sederhana : siapa yang menguasai informasi maka akan memenangkan kompetisi. Lalu bagaimana dengan pendidikan Indonesia ?

Pendidikan Indonesia
Pendidikan didefinisikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Sementara Pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.(UU.No. 20/2003).
Dalam Rencana Strategi Pendidikan Nasional (RENSTRA), kebijakan pokok pendidikan nasional terdiri dari :Pemerataan dan Perluasan Akses, Peningkatan Mutu, Relevansi, dan Daya Saing, serta Penguatan Tata Kelola, Akuntabilitas, dan Citra Publik. Adapun Visi Pendidikan Nasional sebagai berikut: Terwujudnya sistem Pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Sejalan dengan Visi Pendidikan Nasional tersebut, Depdiknas berhasrat untuk pada tahun 2025 menghasilkan: INSAN INDONESIA CERDAS DAN KOMPETITIF (Insan Kamil / Insan Paripurna)
Pemerintah rupanya telah makin menyadari bahwa untuk mewujudkan visi tersebut, satu hal yang mesti diwujudkan adalah masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge based society). Untuk mewujudkannya, pemanfaatan iptek sebagai penggerak utama (prime mover) terus diupayakan dengan memfasilitasi peningkatan indeks pemanfaatan teknologi tersebut. Di sinilah konvergensi IT dan telekomunikasi secara taken for granted diakui mampu memberi peran lebih dalam peningkatan kemajuan pendidikan bangsa.

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), adalah produk terbaru pemerintah dalam upaya mempercepat pencapaian tujuan pendidikan. Berbagai pembaharuan dilakukan sebagai respon atas perubahan iklim belajar di era modern. Negara-negara lain telah melakukan revolusi konstruksi sistem belajar sebagai upaya menghasilkan sumber daya manusia yang unggul dan kompetitif dengan memanfaatkan kemajuan dan konvergensi IT dan telekomunikasi, sehingga -meski dapat dikatakan terlambat- pemerintah pun berupaya mengejar ketertinggalan dengan sistem KTSP ini.
Sistem pembelajaran pun perlahan mulai bergeser dari pembelajaran kelas menjadi pembelajaran terbuka. Para guru adalah fasilitator sementara para siswa adalah objek sekaligus subjek sistem belajar itu sendiri. Demokratisasi pendidikan mulai beranjak dari hegemoni guru -sebagai satu-satunya sumber pengajaran- ke berbagai varian sumber sesuai eksplorasi siswa. Dan perkembangan IT dan telekomunikasi pada akhirnya menjadi satu media belajar, subjek sekaligus objek studi yang unlimited, penuh ilmu pengetahuan baru yang belum bisa dilakukan di era sebelumnya. Konvergensi IT dan telekomunikasi  pun makin memberi peran bagi proses pembelajaran siswa.


D.Penutup
            Dunia pendidikan telah berubah ke arah yang lebih modern  seiring dengan perkembangan teknologi, perubahan budaya, dan tuntutan kompetisi global. Pemerintah telah merespon dengan merubah paradigma dan sistem pembelajaran melalui RENSTRA, operator telekomunikasi dan perangkat IT juga melakukan program-program pemanfaatan konvergensi IT dan telekomunikasi  bagi pendidikan. Internet adalah satu produk teknologi yang saat ini sangat berperan, digunakan banyak user, sekaligus mampu memberi layanan yang mampu dan akseleratif demi mengejar ketertinggalan dengan bangsa lain.

            Teknologi IT dan telekomunikasi, bagaimanapun adalah sebatas media. Yang terpenting adalah bagaimana para manusianya berperan proaktif mendaya-gunakan semua potensinya untukkemajuan dunia pendidikan.  Demi kemajuan pendidikan, demi kemajuan bangsa,.  Sebagaimana Edwart Teller katakan :  ‘Ilmu pengetahuan pada hari ini akan menjadi teknologi hari esok'.

Aplikasi Teoritis

Aplikasi Teoritis


Metodologi Penelitian Informatika
Istilah Informatika diturunkan dari bahasa Perancis informatique, yang dalam bahasa Jerman disebut Informatik. Sebenarnya, kata ini identik dengan istilah computer science di Amerika Serikat dan computing science di Inggris (Wiki, 2008). Di Indonesia istilah tersebut dikenal sebagai Ilmu Komputer atau Teknik Informatika. Istilah ini kedua-duanya dipakai di berbagai Perguruan Tinggi di Indonesia untuk menamai fakultas, jurusan, atau program studi dalam menjalankan misi akademisnya.
Teknik Informatika/ Ilmu Komputer merupakan ilmu yang mempelajari landasan teoritis komputasi dan informasi serta penerapannya dalam sistem komputer termasuk perangkat keras maupun perangkat lunak. Ilmu Komputer mencakup beragam topik yang berkaitan dengan komputer, mulai dari analisis abstrak algoritma sampai subjek yang lebih konkret seperti bahasa pemrograman, perangkat lunak, dan perangkat keras (Wiki, 2008).

Pengertian Metodologi Penelitian Ilmu : Suatu pengetahuan yang sistematis dan terorganisasi
Penelitian : Suatu penyelidikan yang hati-hati serta teratur dan terus menerus untuk memecahkan suatu masalah.

Penelitian adalah proses, sedangkan hasilnya adalah ilmu.
Kebenaran : Umumnya suatu kebenaran ilmiah dapat diterima karena ada 3 alasan:
1. Adanya koheran/Konsisten : Suatu pernyataan dianggap benar jika pernyataan tersebut koheran/konsisten dengan pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Mis. Ayam akan mati.
2. Adanya koresponden: suatu pernyataan dianggap benar jika materi pengetahuan yang terkandung dalam pernyataan tersebut berhubungan atau mempunyai koresponden dengan objek yang dituju oleh pernyataan tersebut. Mis. Ibu kota RI adalah Jakarta. 3. Pragmatis: Pernyataan dipercayai benar karena pernyataan tersebut mempunyai sifat fungsional dalam kehidupan praktis. Suatu pernyataan atau suatu kesimpulan dianggap benar jika pernyataan tersebut mempunyai sifat pragmatis dalam kehidupan sehari-hari.
Kebenaran Non Ilmiah: Tidak selamanya penemuan kebenaran diperoleh secara ilmiah, kadangkala kebenaran dapat ditemukan melalui proses non ilmiah seperti:
a. Penemuan kebenaran secara kebetulan
b. Penemuan kebenaran secara akal sehat
c. Penemuan kebenaran melalui wahyu
d. Penemuan kebenaran secara intuitif
e. Penemuan kebenaran secara trial dan error
f. Penemuan kebenaran melalui spekulasi
g. Penemuan kebenaran karena kewibawaan

Rummel menggolong –golongkan taraf-taraf perkembangan metodologi Research dalam 4 periode antara lain:
1. Periode Trial and Error : orang berusaha mencoba dan mencoba lagi sampai diperoleh suatu pemecahan yang memuaskan.
2. Periode Authority and tradition: Pendapat para pemimpin dijadikan doktrin yang harus diikuti tanpa sesuatu kritik, the master always says the truth, meskipun belum tentu pendapat itu benar.
3. Periode Speculation and Argumentation. Diskusi dan debat diadakan untuk mencari akal dan ketangkasan. Benar kalau dapat diterima oleh akal.
4. Periode Hypothesis and Experimentation: Semua peristiwa dalam alam ini dikuasai oleh tata-tata dan mengikuti pola-pola tertentu. Orang berusaha mencari rangkaian tata untuk menerangkan sesuatu kejadian.

Bagi Penyelidik diperlukan syarat-syarat sbb:
a. Kompoten, secara teknis menguasai dan mampu menyelenggarakan riset ilmiah
b. Objektif, tidak mencapur adukkan pendapat sendiri dengan kenyataan.
c. Jujur, tidak memasukkan keinginan-keinginan sendiri kedalam fakta
d. Factual, hanya bekerja jika ada fakta
e. Terbuka, bersedia memberikan bukti atau memberikan kesempatan kepada orang lain untuk
menguji kebenaran proses dan atau hasil peneyelidikannya.


Tugas-Tugas Ilmu Pengetahuan
Pertama: adalah dorongan ingin tahu (curiosity) yang dimiliki oleh semua manusia normal
Keuda adalah keinginan praktis dari pengetahuan yang diperoleh dari perenungan dan penyelidikan-penyelidikan

Dalam terminology ilmiah tugas-tugas ilmu pengetahuan sbb:
1. Tugas Exsplantif/tugas mengadakan Explanation (tugas menerangkan gejala-gejala alam). Tujuan pokok dari penyelidikan-penyelidikan ilmiah tidak semata-mata untuk melukiskan (menggandakan deskripsi) gejala-gejala melainkan juga menyediakan keterangan-keterangan tentang gejala-gejala itu.
2. Tugas Prediktif/tugas mengadakan prediction (tugas meramal kejadian-kejadian alam dimasa depan)
3. Tugas Kontrol atau tugas mengadakan Kontrol (Tugas mengendalikan peristiwa-peristiwa yang bakal datang) Ilmu pengetahuan tidak hanya bertugas membeberkan kejadian-kejadian dan menyediakan hokum atau dalil untuk meramalkan kejadian-kejadian dimasa depan, tetapi juga bertugas mengontrol kejadian-kejadian yang makin banyak jumlahnya, yang dimaksud dengan mengontrol atau mengendalikan adalah mempermainkan kondisi-kondisi untuk menimbulkan kejadian-kejadian yang diinginkan.

Jenis-Jenis Penelitian:
1. Penggolongan menurut bidangnya : Riset Ekonomi, Riset Teknik
2. Penggolongan menurut tempatnya: Riset Kepustakaan
3. Penggolongan menurut pemakaiannya
4. Penggolongan menurut tujuan umumnya Research Exploratif, Research Developmental