Entri Populer

Epistemologi Ilmu Pengetahuan I

Jumat, 11 Juni 2010

Epistemologi Ilmu Pengetahuan
Sub BAB I


1.1. Epistemologi Ilmu Pengetahuan
Epistemologi, (dari bahasa Yunani episteme (pengetahuan) dan logos (kata/pembicaraan/ilmu) adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan asal, sifat, dan jenis pengetahuan. Topik ini termasuk salah satu yang paling sering diperdebatkan dan dibahas dalam bidang filsafat, misalnya tentang apa itu pengetahuan, bagaimana karakteristiknya, macamnya, serta hubungannya dengan kebenaran dan keyakinan.
Epistomologi atau Teori Pengetahuan berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia. Pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal dan panca indera dengan berbagai metode, diantaranya; metode induktif, metode deduktif, metode positivisme, metode kontemplatis dan metode dialektis.


1.2. Pengertian dan Jenis-Jenis Metafisika Serta Hubungannya dengan Pengetahuan Ilmiah
Metafisika berasal dari kata Yunani meta ta physika, sesuatu di luar hal-hal fisik. Istilah metafisika diketemukan Andronicus pada tahun 70 SM ketika menghimpun karya-karya Aristoteles, dan menemukan suatu bidang di luar bidang fisika atau disiplin ilmu lain. Metafisika secara tradisional didefinisikan sebagai pengetahuan tentang Pengada (Being). (Runes, 1979: 196).
Metafisika diklasifikasikan menjadi 2 (C. Wolff), yaitu :
Metaphysica Generalis (ontologi); ilmu tentang yang ada atau pengada.
Metaphysica Specialis terdiri atas:
1. Antropologi; menelaah tentang hakikat manusia, terutama hubungan jiwa dan raga.
2. Kosmologi; menelaah tentang asal usul dan hakikat alam semesta.
3. Theologi; Kajian tentang Tuhan secara rasional.
Hubungan Metafisika dengan Ilmu Pengetahuan
1. Kontribusi metafisika terletak pada awal terbentuknya paradigma ilmiah, ketika kumpulan kepercayaan belum lengkap pengumpulan faktanya, maka ia harus dipasok dari luar, antara lain: metafisika, sains yang lain, kejadian personal dan histories. (Kuhn)
2. Metafisika mengajarkan cara berpikir yang serius, terutama dalam menjawab problem yang bersifat enigmatik (teka-teki), sehingga melahirkan sikap dan rasa ingin tahu yang mendalam. (Kennick)
3. Metafisika mengajarkan sikap open-ended, sehingga hasil sebuah ilmu selalu terbuka untuk temuan dan kreativitas baru. (Kuhn)
4. Perdebatan dalam metafisika melahirkan berbagai aliran, mainstream, seperti: monisme, dualisme, pluralisme, sehingga memicu proses ramifikasi, berupa lahirnya percabangan ilmu (Kennick)
5. Metafisika menuntut orisinalitas berpikir, karena setiap metafisikus menyodorkan cara berpikir yang cenderung subjektif dan menciptakan terminologi filsafat yang khas. Situasi semacam ini diperlukan untuk pengembangan ilmu dalam rangka menerapkan heuristika. (van Peursen)
6. Metafisika mengajarkan pada peminat filsafat untuk mencari prinsip pertama (First principle) sebagai kebenaran yang paling akhir. Kepastian ilmiah dalam metode skeptis Descartes hanya dapat diperoleh jika kita menggunakan metode deduksi yang bertitik tolak dari premis yg paling kuat (Cogito Ergo Sum).
7. Manusia yang bebas sebagai kunci bagi akhir Pengada,artinya manusia memiliki kebebasan utk merealisasikan dirinya sekaligus bertanggungjawab bagi diri, sesama, dan dunia. Penghayatan atas kebebasan di satu pihak dan tanggung jawab di pihak lain merupakan sebuah kontribusi penting bagi pengembangan ilmu yang sarat dengan nilai (not value-free). (Bakker)
8. Metafisika mengandung potensi untuk menjalin komunikasi antara pengada yang satu dengan pengada yang lain. Aplikasi dalam ilmu berupa komunikasi antar ilmuwan mutlak dibutuhkan, tidak hanya antar ilmuwan sejenis, tetapi juga antar disiplin ilmu, sehingga memperkaya pemahaman atas realitas keilmuwan. (Bakker).

2.3. Asumsi dan Peluang dalam Ilmu Pengetahuan
Asumsi
Setiap ilmu selalu memerlukan asumsi. Asumsi diperlukan untuk mengatasi penelaahan suatu permasalahan menjadi lebar. Semakin terfokus obyek telaah suatu bidang kajian, semakin memerlukan asumsi yang lebih banyak. Asumsi dapat dikatakan merupakan latar belakang intelektal suatu jalur pemikiran. Asumsi dapat diartikan pula sebagai merupakan gagasan primitif, atau gagasan tanpa penumpu yang diperlukan untuk menumpu gagasan lain yang akan muncul kemudian. Asumsi diperlukan untuk menyuratkan segala hal yang tersirat. McMullin (2002)
Terdapat beberapa jenis asumsi yang dikenal, antara lain; Aksioma. Pernyataan yang disetujui umum tanpa memerlukan pembuktian karena kebenaran sudah membuktikan sendiri.Postulat. Pernyataan yang dimintakan persetujuan umum tanpa pembuktian, atau suatu fakta yang hendaknya diterima saja sebagaimana adanya Premise. Pangkal pendapat dalam suatu entimen . Pertanyaan penting yang terkait dengan asumsi adalah bagaimana penggunaan asumsi secara tepat? Untuk menjawab permasalahan ini, perlu tinjauan dari awal bahwa gejala alam tunduk pada tiga karakteristik (Junjung, 2005):
1. Deterministik.
2. Pilihan Bebas
3. Probabilistik

Peluang
Dasar teori keilmuan di dunia ini tidak akan pernah terdapat hal yang pasti mengenai satu kejadian, hanya kesimpulan yang probabilistik. Ilmu memberikan pengetahuan sebagai dasar pengambilan keputusan di mana didasarkan pada penafsiran kesimpulan ilmiah yang bersifat relatif.
Peluang merupakan salah satu konsep yang sering kita gunakan untuk mendeskripsikan realitas di dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, aplikasinya tidaklah terbatas hanya pada percakapan keseharian tersebut, namun juga mencakup wilayah konversasi yang lebih serius dan refleksif, yaitu sains. Dengan kata lain, peluang acapkali digunakan sebagai perangkat eksplanasi ilmiah. Hal ini seolah-olah dijustifikasi oleh Carl Hempel, salah satu filsuf sains utama pada abad 20, ketika dalam karya monumentalnya, Philosophy of Natural Science, mengakui adanya dua jenis wujud hukum yang berperan di dalam eksplanasi ilmiah, yaitu hukum yang universal (laws of universal form) dan hukum yang probabilistik (laws of probabilistic form).

3.1. Simpulan
Kedudukan Metafisika dalam filsafat, kuat. Pertama metafisika sudah merupakan sebuah cabang ilmu tersendiri dalam pergulatan filosofis. Kedua seperti yang dikatakan filsafat adalah suatu ilmu yang kajiannya tidak terbatas terhadap fakta-fakta saja melainkan sampai jauh diluar fakta hingga batas kemampuan logika manusia
Asumsi diperlukan untuk mengatasi penelaahan suatu permasalahan menjadi lebar. Semakin terfokus obyek telaah suatu bidang kajian, semakin memerlukan asumsi yang lebih banyak. Asumsi dapat dikatakan merupakan latar belakang intelektal suatu jalur pemikiran. Asumsi dapat diartikan pula sebagai merupakan gagasan primitif, atau gagasan tanpa penumpu yang diperlukan untuk menumpu gagasan lain yang akan muncul kemudian.
Peluang merupakan salah satu konsep yang sering kita gunakan untuk mendeskripsikan realitas di dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, aplikasinya tidaklah terbatas hanya pada percakapan keseharian tersebut, namun juga mencakup wilayah konversasi yang lebih serius dan refleksif, yaitu sains.

Epistemologi Ilmu Pengetahuan II

Epistemologi Ilmu Pengetahuan
Sub BAB II


1.1 Pembagian Berpikir
Berpikir Merupakan Proses Bekerjanya Akal Imam Al Ghazali menempatkan akal pada posisi yang mulia. Dalam kitabnya Ihya Ulumuddin beliau membuat suatu sub judul : Fi Al Aqli wa Syarafihi dan mengutip sebuah hadis yang artinya sebagai berikut : "Pertama kali yang diciptakan oleh Allah SWT adalah akal.

Akal Merupakan Salah Satu Unsur Kejiwaan Di Samping Rasa. Berpikir Dapat Dilihat Secara Alamiah Dan Ilmiah.
A). Berpikir alamiah :
Pola Penalaran Berdasarkan Kebiasaan Sehari-Hari Dari Pengaruh Alam Sekelilingnya. Misalnya penalaran tentang panasnya api yang dapat membakar.
B). Berpikir ilmiah :
Pola Penalaran Berdasarkan Sarana Tertentu Secara Teratur Dan Cermat. Berpikir ilmiah adalah landasan atau kerangka berpikir penelitian ilmiah. Untuk melakukan kegiatan ilmiah secara baik diperlukan sarana berpikir. Tersedianya sarana tersebut memungkinkan dilakukannya penelaahan ilmiah secara teratur dan cermat. Penguasaan sarana berpikir ilmiah ini merupakan suatu hal yang bersifat imperatif bagi seorang ilmuwan. Tanpa menguasai hal ini maka kegiatan ilmiah yang baik tak dapat dilakukan.

1.2 Sarana Berpikir Ilmiah
1.2.1 Hakikat Sarana Berpikir Ilmiah
Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan alat yang membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuhnya. Pada langkah tertentu biasanya diperlukan sarana yang tertentu pula. Oleh sebab itulah maka sebelum kita mempelajari sarana-sarana berpikir ilmiah ini seyogyanya kita telah menguasai langkah-langkah dalam kegiatan langkah tersebut.

Dalam proses pendidikan, sarana berpikir ilmiah ini merupakan bidang studi tersendiri. Dalam hal ini kita harus memperhatikan 2 hal, yaitu :

a. Sarana ilmiah bukan merupakan kumpulan ilmu, dalam pengertian bahwa sarana ilmiah itu merupakan kumpulan pengetahuan yang didapatkan berdasarkan metode ilmiah.
b. Tujuan mempelajari sarana berpikir ilmiah adalah untuk memungkinkan kita untuk menelaah ilmu secara baik.

1.2.2 Fungsi Sarana Berpikir Ilmiah
Sarana Ilmiah Mempunyai Fungsi Yang Khas, Sebagai Alat Bantu Untuk Mencapai Tujuan Dalam Kaitan Kegiatan Ilmiah Secara Keseluruhan. Sarana Berpikir Ilmiah Merupakan Alat Bagi Cabang-Cabang Pengetahuan. Untuk Mengembangkan Materi Pengetahuannya Pada Dasarnya Ada Tiga :

1). Bahasa Ilmiah
2). Matematika dan logika
3). Statistika

1.2 Kesalahan-Kesalahan Dalam Berfikir
Pahaman selama ini yang beredar dalam mayoritas masyarakat tentang setan yang berwajah buruk, menakutkan, yang memiliki keberadaan di luar manusia sehingga mampu mencekik leher manusia, membunuh manusia. Seperti yang dilakukan setan Sumiati, Si Manis Jembatan Ancol atau Sundal Bolong adalah merupakan pahaman yang keliru. Kita pada umumnya belum bisa membedakan mana jin dan mana setan. Dalam dunia mistik diketahui bahwa yang selama ini yang menakut-nakuti manusia yang memiliki keberadaan di luar manusia yang mampu mencelakakan manusia secaras fisik dan ruhani dengan langsung semuanya adalah kerjaan jin yang mengaku sebagai setannya ruh si A dan setannya ruh si B.

1.Over-Generalisation : Yaitu, penggunaan satu dua kasus untuk mendukung argumen yang bersifat umum
2.Post Hoc Ergo Proter Hoc

2.1 Kesimpulan
Manusia adalah makhluk yang dilengkapi Allah sarana berpikir. Dengan berpikir manusia dapat memenuhi kehidupannya dengan mudah.
Sarana Berfikir Ilmiah Mempunyai Fungsi Yang Khas, Sebagai Alat Bantu Untuk Mencapai Tujuan Dalam Kaitan Kegiatan Ilmiah Secara Keseluruhan. Sarana Berpikir Ilmiah Merupakan Alat Bagi Cabang-Cabang Pengetahuan Untuk Mengembangkan Materi Pengetahuannya Pada Dasarnya Ada Tiga :
a). Bahasa Ilmiah
b). Matematika dan logika
c). Statistika

Kerangka Dasar Teori Ilmu

Kerangka Dasar Teori Ilmu

1. Pengertian Metode Ilmiah
Metode ilmiah merupakan suatu prosedur yang mencakup berbagai tindakan pikiran, pola kerja, cara teknis, dan tata langkah untuk memperoleh pengetahuan baru/ pengembangan pengetahuan yang telah ada. Metode berasal dari bahasa Yunani, Meta yang berarti sesudah dan hodos yang berarti jalan. Metode adalah langkah-langkah yang diambil menurut urutan tertentu, untuk mencapai pengetahuan yang benar, yaitu sesuatu tatacara, teknik, atau jalan yang telah dirancang dan dipakai dalam proses memperoleh pengetahuan jenis apapun, baik pengetahaun humanistik,dan historis, ataupun pengetahuan filsafat dan ilmiah (Bakker, 1988). Van Melsen(1986) mengemukakan bahwa setiap ilmu mempunyai metode berlainan untuk menyelidiki, melukiskan, mengerti realitas.

2. Kriteria Metode Ilmiah
Supaya suatu metode yang digunakan dalam penelitian disebut metode ilmiah, maka metode tersebut harus mempunyai kriteria sebagai berikut:
a)Berdasarkan fakta
b)Bebas dari prasangka (bias)
c)Menggunakan prinsip-prinsip analisa
d)Menggunakan hipotesa
e)Menggunakah ukuran objektif
f)Menggunakan teknik kuantifikasi

3. Penelitian Ilmiah
Salah satu hal yang penting dalam dunia ilmu adalah penelitian (research). Research berasal dari kata re yang berarti kembali dan search yang berarti mencari, sehingga research atau penelitian dapat didefinisikan sebagai suatu usaha untuk mengembangkan dan mengkaji kebenaran suatu pengetahuan. Suatu penelitian harus memenuhi beberapa karakteristik untuk dapat dikatakan sebagai penelitian ilmiah. Umumnya ada empat karakteristik penelitian ilmiah, yaitu :
a)Sistematik.
b) Logis.
c)Empirik.
d)Replikatif

2. Arti Kebenaran
Kata "kebenaran" dapat digunakan sebagai suatu kata benda yang konkret maupun abstrak (Abbas Hamami, 1983). Jika subjek hendak menuturkan kebenaran artinya adalah proposisi yang benar. Proposisi maksudnya adalah makna yang dikandung dalam suatu pernyataan atau statement. Apabila subjek menyatakan kebenaran bahwa proposisi yang diuji itu pasti memiliki kualitas, sifat atau karakteristik, hubungan, dan nilai. Hal yang demikian itu karena kebenaran tidak dapat begitu saja terlepas dari kualitas, sifat, hubungan, dan nilai itu sendiri. Adanya pelbagai macam kategori sebagaimana tersebut di atas, maka tidaklah berlebihan jika pada saatnya setiap subjek yang memiliki pengetahuan akan memiliki persepsi dan pengertian yang amat berbeda satu dengan lainnya.

2. Teori-teori Kebenaran
Dalam perkembangannya teori-teori kebenaran selalu berbanding sama dengan teori-teori pengetahuan. Teori-teori yang terlembaga antara lain adalah :
a)Teori Kebenaran Korespondensi
b)Teori Kebenaran Koherensi
c)Teori Kebenaran Pragmatis
d)Teori Kebenaran Performatif
e)Teori Kebenaran Sintaksis
f)Teori Kebenaran Semantis
g)Proposisi
h)Kebenaran Struktural Paradigmatik

3. Sifat Kebenaran Ilmiah
Kebenaran ilmiah muncul dari hasil penelitian ilmiah. Artinya suatu kebenaran tidak mungkin muncul tanpa adanya prosedur baku yang dilaluinya. Prosedur baku yang harus dilalui itu adalah tahap-tahap untuk memperoleh pengetahuan ilmiah --yang pada hakikatnya berupa teori-- melalui metodologi ilmiah yang telah baku sesuai dengan sifat dasar ilmu. Maksudnya adalah bahwa setiap ilmu secara tegas menetapkan jenis objek secara ketat apakah objek itu berupa hal konkret atau abstrak. Pembicaraan tentang objek secara rinci telah dijelaskan di muka. Selain itu juga, ilmu menetapkan langkah-langkah ilmiah sesuai dengan objek yang dihadapinya itu.

4. Kelemahan dan Kelebihan Berfikir Ilmiah
Berpikir bisa dikatakan merupakan suatu aktivitas yang sangat penting. Karena tanpanya, manusia akan berada dalam suasana yang gelap dan hampa. Manusia tidak akan mampu mengenal lingkungan tempat dia tinggal, siapa pencipta alam jagad raya ini, bahkan ia pun tidak akan mampu mengenal dirinya dan hakikat keberadaannya di dunia tanpa melalui sebuah aktivitas berpikir.

Terlepas dari hal itu, berfikir ilmiah tetap mengandung kelemahan-kelemahan. Kelemahan metode ilmiah dapat kita lihat dari segi cakupan atau jangkauan dari kajiannya, asumsi yang melandasinya, dan kesimpulannya bersifat relatif. Dengan penjelasan sebagai berikut:
a)Metode ilmiah tidak dapat digunakan kecuali pada pengkajian objek-objek material yang dapat di indera.
b)Metode ilmiah mengasumsikan adanya penghapusan seluruh informasi sebelumnya tentang objek yang akan dikaji, dan mengabaikan keberadaannya. Kesimpulan yang didapat ini adalah bersifat spekulatif atau tidak pasti (dugaan).

5. Kesimpulan
Uraian dan ulasan mengenai berbagai teori kebenaran di atas telah menunjukkan kelebihan dan kekurangan dari berbagai teori kebenaran. Teori Kebenaran Korespondensi sesuai dengan fakta dan empiris kumpulan fakta-fakta, Koherensi bersifat rasional dan Positivistik mengabaikan hal-hal non fisik, Pragmatis fungsional-praktis tidak ada kebenaran mutlak.
Segala hal bersifat keilmuan(ilmiah) senantiasa diidentikkan dengan sains, sehingga metode yang digunakan dalam menentukan keilmuan cenderung bersifat menyempit. Padahal realita yang didahadapi tidak selalu berhubungan dengan sains.
Apapun cara yang dipakai untuk menemukan kebenaran tergantung dengan apa yang diteliti untuk dicari kebenarannya. Karena setiap bagian dari ilmu yang diteliti mempunyai batasan-batasan dan cara yang berbeda untuk membuktikan kebenarannya.
Semoga dengan kebenaran yang didapatkan dengan metode ilmiah ini dapat memberikan manfaat yang nyata bagi kelangsungan hidup manusia dan menjaga kelestarian alam sehingga kehidupan berjalan selaras dengan kebenaran yang muncul dari metode-metode tersebut.

Pengetahuan

Pengetahuan


A.Teori Belajar
Teori belajar yang telah kita bahas meliputi teori Ausubel, Bruner, Gagne, dan teori Piaget. Ke-4 teori tersebut masing-masing memiliki kekhususan, teori Ausubel, misalnya menekankan pada belajar bermakna. Pada belajar bermakna siswa dapat mengasimilasi pada belajar bermakna secara penerimaan, materi pelajaran disajikan dalam bentuk final, sedangkan pada belajar bermakna secara penemuan, siswa diharapkan dapat menemukan sendiri informasi konsep atau dari materi pelajaran yang disampaikan. Belajar bermakna dapat terjadi jika siswa mampu mengkaitkan materi pelajaran baru dengan struktur kognitif yang sudah ada. Struktur kognitif tersebut dapat berupa fakta-fakta, konsep-konsep maupun generalisasi yang telah diperoleh atau bahkan dipahami sebelumnya oleh siswa.

B. Lompatan Paradigmatik (Khun) Merton
1)PARADIGMA DAN KONSTRUKSI KOMUNITAS ILMIAH
Temuan-temuan Khun kemudian diterbitkan dalam karyanya The Structure of Scientific Revolutions, yang memang cukup mengguncang dominasi paradigma positivistic. Dalam bukunya itu, ia menyatakan bahwa ilmuwan bukanlah para penjelajah berwatak pemberani yang menemukan kebenaran-kebenaran baru. Mereka lebih mirip para pemecah teka-teki yang bekerja di dalam pandangan dunia yang sudah mapan. Menurut Thomas S. Kuhn, paradigma adalah suatu asumsi dasar dan asumsi teoritis yang umum (merupakan suatu sumber nilai), sehingga menjadi suatu sumber hukum, metode, serta penerapan dalam ilmu pengetahuan sehingga sangat menentukan sifat, ciri, serta karakter ilmu pengetahuan itu sendiri.Dengan memakai istilah “paradigma”, ia bermaksud mengajukan sejumlah contoh yang telah diterima tentang praktek ilmiah nyata termasuk di dalamnnya hukum Teori Aplikasi dan instrumentasi, yang menyediakan model-model, yang menjadi sumber komsistensi dari tradisi riset ilmiah tertentu.
Menurut Kuhn, tradisi-tradisi inilah yang oleh sejarah ditempatkan di dalam rubrik-ribrik seperti “Ptolemaic Astronomy” (ataucopernican), ”Aristotelian dynamic” (atau Newtonian),“corpuscular optics” (atau wave optics) dan sebagainya.
Pandangan Kuhn ini telah membuat dirinya tampil sebagai prototype pemikir yang mendobrak keyakinan para ilmuwan yang bersifat positivistik. Pemikiran positivism memang lebih menggaris bawahi validitas hukum-hukum alam dan hukum sosial yang bersifat universal, yang dapat dibangun oleh rasio. Mereka kurang berminat untuk melihat faktor historis yang ikut berperan dalam aplikasi hukum-hukum yang dianggap sebagai universal tersebut.

Fokus pemikiran Kuhn ini memang menentang pendapat golongan realis yang mengatakan bahwa sains-fisika dalam sejarahnya berkembang melalui pengumpulan fakta-fakta bebas konteks. Sebaliknya ia menyatakan bahwa perkembangan sains berlaku melalui apa yang disebut paradigma ilmu. Menurut Kuhn, paradigma ilmu adalah suatu keraangka teoritis, atau suatu cara memandang dan memahami alam, yang telah digunakan oleh sekelompok ilmuwan sebagai pandangan dunia (world view) nya. Paradigma ilmu berfungsi sebagai lensa yang melaluinya ilmuwan dapat mengamati dan memahami masalah-masalah ilmiah dalam bidang masing-masing dan jawaban-jawaban ilmiah terhadap masalah-masalah tersebut.

2)PROSES PERKEMBANGAN ILMU
Menurut Kuhn, proses perkembangan ilmu pengetahuan manusia tidak dapat terlepas sama sekali dari apa yang disebut –keadaan-“normal science” dan “revolutionary science”. Semua ilmu pengetahuan yang telah tertulis dalam texboook adalah termasuk dalam wilayah “sains normal”(normal science). Sains normal bermakna penyelidikan yang dibuat oleh suatu komunitas ilmiah dalam usahanya menafsirkan alam ilmiah melalui paradigma ilmiahnya.

Sains normal adalah usaha sungguh-sungguh dari ilmuwan untuk menundukkan alam masuk ke dalak kotak-kotak konseptual yang disediakan oleh paradigma ilmiah dan untuk menjelaskan , diumpamakan sains normal itu sebagai Sesuatu yang dapat menyelesaikan masalah teka-teki. Sebagaimana penyelasaian-penyelesaian masalah teka-teki yang menggunakan gambar pada kotak untuk membimbingnya dalam menyelesaikan teka-teki itu, maka suatu paradigma ilmiah memberi komunitas ilmiah suatu gambaran tentang bagaimana sepatutnya bentuk dunia ilmiah mereka , yang dengan begitu semua serpihan-serpihan penyelidikan ilmiah digabungkan satu sama lain. Kemajuan sains normal diukur menurut banyaknya serpihan dari teka-teki yang dikumpulkan (yakni berapa banyak lingkungan ilmiah yang dapat diamati dan dipahami oleh komunitas ilmiah). Jadi pada dasarnnya, paradigma berkaiatan erat dengan sains normal.
Dalam wilayah “normal science” ada banyak persoalan yang tidak dapat terselesaikan atau terinkonsistensi. Hal ini oleh Kuhn disebut anomolies, keganjilan-kaganjilan, ketidaktepatan, ganjalan-ganjalan atau penyimpangan yang biasa terjadi dan dirasakan oleh para pelaksana di lapangan. Karena terkurung oleh rutinitas, para praktisi sering tidak menyadari adanya anomali yang melekat dalam wilayah “normal science”. Anomalies tidak dapat dipecahkan secara tuntas dalam wilayah “normal science”. Hanya kalangan peneliti serius, pengamat dan kritikus yang secara relatif mengetahui adanya anomalies tersebut . Mereka inilah para pelaku dari apa yang disebut sains luar biasa. Suatu komunitas ilmiah mulai mengumpulkan data yang tidak sejalan dengan pandangan paradigma mereka dengan alam. Jika paradigma tidak sempurna, maka ini akan memasuki keadaan krisis. Usaha untuk menyelesaikan krisis adalah proses sains luar biasa. Krisis adalah suatu mekanisme koreksi diri yang memastikan bahwa kekakuan pada fase sains normal tidak akan berkelanjutan. Jika anomolies yang kecil-kecil itu terakumulasi dan menjadi begitu akut dan suatu saat ditemukan penyelesaiannya oleh para ilmuwan. Artinya suatu komunitas ilmiah dapat menyelesaikan keadaan krisisnya dengan menyususn diri di sekeliling paradigma baru, maka oleh Kuhn ini dinamakan “revolusi sains” (revolutionary science).

B. Paradigma Merton
Robert King Merton lahir di Philadelphia pada tahun 1910 dan wafat pada tahun 2003. Dilahirkan dari kelas pekerja, Merton merupakan imigran Yahudi Eropa Barat. Merton mendapatkan pendidikan di South Philadelphia High School, dan mendapatkan pengarahah serta memulai karir di bidang sosiologi di bawah asuhan George E. Simpson di Temple University pada tahun 1927 hingga 1931, dan Pitirim A. Sorokin di Harvard University pada tahun 1931 hingga 1936. Meskipun dalam bidang akademik Merton banyak menerima anugrah dari berbagai universitas di seluruh dunia, namun karir percintaan Merton tidaklah semulus karir akademiknya. Merton tercatat dua kali menikah dan memiliki tiga orang anak, salah satunya adalah penerima Nobel di bidang Ekonomi, Robert C. Merton. Sewaktu kecil, Merton sering berkunjung ke Perpustakaan Carnegie yang terletak tidak jauh dari rumahnya. Intensitas kedatangan Merton kecil inilah yang menarik perhatian George E. Simpson, dan kemudian menjadikan Merton sebagai asisten dalam berbagai riset yang dilakukannya. Sorokin menjadi pendorong utama bagi Merton untuk menyelesaikan studinya di Harvard, dan menjadikan Merton sebagai asisten utama dalam pengajaran dan penelitian. Tahun 1931, Merton lulus dari Temple College di Philadelphia dan langsung mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi di Harvard University. Tahun 1936, Merton mendapatkan gelar doktor setelah mempertahankan desertasinya di bawah bimbingan George Sarton dengan tema “Science, Technology, and Society in Seventeenth-century England”. Merton banyak mengeksplorasi berbagai isu pada sekitar tahun 1930-an. Pada era itu, Merton lebih banyak memfokuskan pada konteks sosial dari sains dan teknologi, khususnya wilayah Inggris pada abad ke-17. Bidang kajian Merton semakin bertambah, di mana ia mulai mengeksplorasi berbagai tema seperti perilaku menyimpang, perilaku birokrasi, dan kompleksitas komunikasi pada masyarakat modern, dan semua itu ia laksanakan pada tahun 1940-an. Pada dasawarsa selanjutnya, Merton mengeksplorasi peran intelektual dalam birokrasi, unit dasar dari struktur sosial, peran dan status, hingga model dasar yang diadopsi oleh banyak orang sebagai sumber nilai dan basis untuk penilaian diri. Kajian Merton mengenai hal-hal tersebut bukanlah sesuatu yang mengherankan, mengingat ia hidup pada era di mana kajian fungsionalis ala Parson sedang menjadi trend, meskipun pada era 1960-an kajian fungsionalisme telah kehilangan momentum yang membuatnya happening pada masa lalu. Model-model fungsionalis-struktural yang dinisbahkan kepada Parson boleh jadi mencapai masa keemasan pada era Merton. Hal penting yang harus diperhatikan adalah fakta bahwa Merton dipengaruhi oleh Parson karena Merton merupakan salah satu murid Parson. Memang benar bahwa Merton tidak hanya dipengarhui oleh Parson, namun juga oleh P.A. Sorokin, L.J Henderson, E.F Gay, dan George Simmel. Karir akademik Merton dapat dikatakan sangat bagus. Dari tahun 1936-1939 Merton menjadi pengajar di Harvard, tahun 1939-1941 menduduki posisi professor di Tulane University di New Orleans. Tahun 1941, Merton mengajar di Colombia University dan tetap berada di sana selama 38 tahun. Setelah pensiun pada tahun 1979-1984, Merton tetap aktif sebagai Special Service Proffessor, dan mengundurkan diri dari kegiatan mengajar pada tahun 1984. Sepanjang tahun itu hingga kematiannya tahun 2003, Merton lebih memfokuskan pada kegiatan di luar mengajar, di samping adanya fakta yang tidak dapat disangkal bahwa sepanjang hidupnya Merton telah mendapatkan gelar doktor kehormatan lebih dari 20 universitas di seluruh dunia.

C. Program Penelitian
Mengacu pada lima program utama Badan Litbang Pertanian, 13 subprogram, dan mandat penelitian maka BALITPA menyusun Program Penelitian dan Pengembangan Teknologi Tinggi dan Strategis Komoditas pada Sub-Program Penelitian dan Pengembangan Teknologi Tinggi dan Strategis Tanaman Pangan. Berdasarkan Sub-Program tersebut pada tahun 2005-2009, program penelitian Balitpa dipilah ke dalam program:
I. Pengelolaan Sumberdaya Genetik Padi,
II. Pengembangan Padi Unggul Spesifik,
III. Pengembangan Padi Hibrida,
IV. Pengembangan Padi Tipe Baru, dan
V. Diseminasi dan Promosi Hasil Penelitian.

Pengelolaan Sumberdaya Genetik Padi.Konservasi dilakukan terhadap varietas lokal, varietas unggul, varietas introduksi dan padi liar, dengan menyimpan benih varietas-varietas tersebut dalam ruangan bersuhu < 5oC dan secara periodik dilakukan rejuvinasi di lapangan. Selama rejuvinasi, dilakukan karakterisasi terhadap sumberdaya genetik tersebut secara bertahap, terutama dari aspek morfologi, fisiologi, fisiko kimia mutu, ketahanan terhadap hama penyakit, dan toleransi terhadap cekaman lingkungan abiotik. Untuk genotipe yang eksotik akan dilengkapi dengan informasi genetiknya. Data yang diperoleh dihimpun dalam bentuk pangkalan data, sehingga memudahkan pemulia tanaman dalam memilih tetua bahan persilangan dalam membentuk varietas unggul baru.